Closure

Closure

Aku mau menyampaikan hal ini secara jujur dan transparan. Keputusan ini sama sekali bukan karena aku benci atau sudah tidak cinta lagi, melainkan karena aku takut jika perasaan ini makin dalam, rasa sakit saat perpisahan di kemudian hari akan jauh lebih berat. Dan perlu kamu tahu, keputusan ini murni dari pikiranku sendiri. Sama sekali bukan karena ada orang lain yang hadir atau menggantikan posisi kamu.

Di usiaku sekarang, ada banyak tuntutan dan tanggung jawab yang sudah mulai harus aku prioritaskan. Kamu pasti paham akan hal itu. Butuh waktu berminggu-minggu dan perenungan yang panjang sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk menyampaikan ini secara langsung padamu.

Dan satu hal penting yang perlu digaris bawahi: keputusan ini tidak dibuat saat aku sedang emosional, marah, ataupun capek.

Rasa sayang itu jujur masih ada dan tetap ada, tapi mau tidak mau harus mulai aku kubur. Aku rindu masa-masa ketika pikiranku merasa tenang—tanpa rasa overthinking yang kalut setiap kali kamu hilang kabar atau typing cuek, dan tanpa kekhawatiran semu yang terus membayangi. Kamu tahu, aku sensitif dalam hal perasaan. Di usiaku sekarang, aku coba memilih untuk mengurangi hal yang membuat terkadang kalut di kepala. Aku yakin kamu pun merindukan ketenangan yang sama. Meskipun banyak juga momen indah yang kita lalui bersama dan itu sangat teramat tidak mudah untuk dilupakan. Aku yang memulainya, dan aku pula yang mengakhirinya. Perpisahan ini untuk rasa sayang dan cintaku padamu, bukan perpisahan hubungan kita sebagai teman.

Di masa hubungan kita ini, ada 2 hal yang aku mau jujur tentang beberapa hal yang aku sembunyikan:

  • Pertama, aku pernah merasa nyaman saat berinteraksi dengan Wahyu. Nyaman dalam arti bukan tentang rasa cinta apalagi sayang, alasannya murni karena satu sifatnya ketika saat mengobrol dengannya: saat aku bicara, dia fokus mendengarkan. Bahkan kalaupun ada hal mendesak di ponselnya, dia selalu meminta izin terlebih dahulu. Aku menyampaikan ini bukan untuk menghakimi basic manner siapa pun, melainkan karena aku pribadi memang lebih bisa menikmati momen ketika sedang bicara berdua tanpa terdistraksi oleh hal seperti live atau gangguan lainnya. Pun banyak juga momen bersama kamu dan aku yang aku rasa sangat hangat. Seperti memasak dan makan bersama disertai canda gurau dan sentuhan manis.

    Kamu mungkin merasa ini ambigu dan bertanya kenapa aku tidak mengomunikasikannya dari awal. Jujur, aku sempat ingin bilang, tapi di sisi lain aku sadar, aku tidak berhak untuk melarang atau mengubah kebiasaan seseorang. Tapi, poin penting yang perlu digaris bawahi: aku tidak pernah melakukan tindakan apa pun di luar batas, dan aku tidak pernah memvalidasi bagaimana perasaan wahyu ke aku, maupun perasaanku ke dia. Jadi, nyaman yang kumaksud adalah momen dimana aku terasa lepas dalam berbicara tanpa distraksi apapun sama wahyu. Tidak lebih dari itu.
  • Kedua, mengenai pesan/chat dengan orang lain sebagai tindakan 'gatel'. Seperti alasan yang pernah aku sampaikan sebelumnya, aku melakukan itu murni karena merasa kesepian—sialnya, aku memang tidak pandai berkomunikasi dan memilih untuk diam, dan aku akui itu memang tindakan yang salah dalam sebuah hubungan. Tapi tidak ada satupun dari pesan-pesan itu yang berlanjut. Kenapa? Karena aku sendiri sudah tidak punya energi untuk masuk ke kehidupan orang baru (dalam konteks percintaan sesama ini), harus beradaptasi lagi, menyesuaikan diri lagi, atau sekadar basa-basi. Kamu tahu betul bagaimana karakternya aku jika harus berhadapan dengan orang baru.

Ya, itulah semua hal yang pernah aku lakukan di belakang kamu. Aku menyampaikan ini secara terbuka dengan harapan tidak ada prasangka yang timbul.

Sekali lagi, aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti hatimu. Aku ingin kita berdua bisa sama-sama tumbuh dan fokus pada cita-cita masing-masing, tanpa perlu ada drama atau overthinking yang mengganggu waktu istirahat maupun pekerjaan kita.

Maafkan aku jika waktu itu telah lancang mengakses HP kamu, maafkan aku jika aku telah mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hatimu dan maafkan aku atas segala respon kotor ku.

Untuk kamu, dukungan dan kata semangat dariku tidak akan pernah pudar. Di kondisi apa pun dan di mana pun kamu berada, aku selalu berharap kamu tetap menjadi pribadi yang terus tumbuh dengan segala ambisi positifmu. Tetap tersenyum manis di segala keadaan seperti selalu.

Perpisahan di waktu kita sedang baik-baik saja, mungkin seperti petir di tengah cerahnya sunset yang cantik. Aku meromantisasikan perpisahan ini, agar hati kita cepat pulih dan sembuh, tidak meninggalkan luka dan benci.

Fadil, kamu adalah cinta pertama ku kepada seorang laki-laki, pun cinta terakhir ku kepada seorang laki-laki.